Pencarian
Quantum Computing

AI Next Generation: Perebutan Dominasi antara China dan Amerika Serikat

Di tengah gegap gempita kecerdasan buatan (AI) generatif seperti: ChatGPT, Deepseek, dan lain-lain, dunia kini memasuki babak baru dalam pengembangan teknologi: Next-Generation AI.

Prompter JejakAI
Jumat, 18 Juli 2025
Oleh: Dimasti Dano
JejakAI
Leonardo AI

Dua kekuatan utama — Amerika Serikat dan China — tengah bersaing sengit membangun fondasi AI masa depan, yang tak lagi sekadar algoritma software, melainkan sistem cerdas yang benar-benar meniru otak manusia.

Dunia tengah menyaksikan perlombaan teknologi strategis antara dua negara adidaya — sebuah babak baru dalam sejarah kecerdasan buatan. Siapa yang akan membangun “otak buatan” pertama yang benar-benar setara otak manusia? Jawabannya mungkin akan datang dari Beijing atau dari Silicon Valley.

Baca juga: AI dan Komputasi Kuantum: Mendesain Ulang Arah Evolusi Manusia

Amerika Serikat: Unggul dalam Model Generatif, Investasi Neuromorfik

Amerika Serikat masih memimpin dalam pengembangan:

1. Model AI generatif (seperti GPT-4, Claude, dan Gemini).

2. Chip neuromorfik yang meniru kerja neuron, seperti:

        a. Intel Loihi,

        b. IBM TrueNorth.

Melalui proyek seperti DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency) dan lembaga elite seperti Stanford dan MIT, AS menargetkan pengembangan:

1.     AI energi rendah (edge AI),

2. Robot adaptif,

3. Neural chip untuk sistem militer dan industri.

Neuralink menjadi contoh bagaimana AS mulai mengintegrasikan teknologi Brain-Computer Interface (BCI) sebagai sistem komunikasi manusia-mesin di masa depan.

Baca juga: AI Mengalahkan Pilot F-16 dengan 2000 jam terbang: Awal Era Dogfight Otonom?

China: Fokus pada Brain-Computer Interface dan Otak Buatan

Sejak tahun 2019, China menghadapi pembatasan ekspor teknologi tinggi dari AS dan sekutunya, termasuk mesin litografi ekstrem (EUV) dari ASML (Advanced Semiconductor Materials Lithography) yang dibutuhkan untuk mencetak chip 2nm dan 1.4nm. Mesin ini menjadi syarat mutlak untuk kelangsungan Hukum Moore di era AI skala besar .     Hukum Moore adalah prediksi legendaris dari Gordon Moore (pendiri Intel) yang mengatakan: "Jumlah transistor dalam sebuah chip akan berlipat dua setiap dua tahun, sehingga performa meningkat dan harga per transistor turun." Selama lebih dari 50 tahun, hukum ini menjadi peta jalan teknologi komputer, memungkinkan laptop makin tipis, ponsel makin pintar, dan AI makin cerdas.

Tanpa akses ke mesin High-NA EUV (Numerical Aperture Extreme Ultraviolet)— yang memungkinkan untuk menghasilkan  chip seukuran nanometer untuk komputer, smartphone, dan AI masa depan. Dampaknya terhadap China, adalah:

1.     Tidak dapat memproduksi chip mutakhir dalam negeri,

2. Bergantung pada node lama seperti 14nm dan 28nm,

3. Tidak mampu melawan dominasi TSMC (Taiwan Semiconductor Manufacturing Company) atau Samsung dalam CPU (Central Processing Unit)  dan GPU (Graphics Processing Unit) .

Namun alih-alih terus mengejar jalur yang sudah dikunci oleh Barat, dengan cerdiknya China membelokkan arah strategi teknologinya. 

China mengadopsi strategi nasional lewat China Brain Project dan pengembangan. China Brain Project adalah proyek penelitian unggulan selama 15 tahun, yang dimulai pada tahun 2016 sebagai bagian dari Rencana Lima Tahun ke-13 Tiongkok (2016–2020), dan kini terus berjalan hingga mendekati tahun 2030. Proyek ini merupakan satu dari empat program percontohan nasional dalam kerangka Innovation of Science and Technology Forward 2030. Berbeda dari pendekatan konvensional seperti machine learning berbasis statistik, China Brain Project menekankan pada kecerdasan buatan yang meniru cara kerja otak manusia secara biologis (brain-inspired AI). China Brain Project didukung oleh lembaga riset paling bergengsi di Tiongkok: Chinese Academy of Sciences (CAS): Melalui Centre for Excellence in Brain Science and Intelligence Technology, proyek ini melibatkan lebih dari 20 institusi dan universitas.  Chinese Institute for Brain Research: Diresmikan pada Maret 2018 di Beijing, sebagai pusat nasional untuk riset otak dan AI yang terintegrasi. :

1.     Brain-inspired intelligence industry, khususnya di kawasan Greater Bay Area.

2. Brain-Computer Interface (BCI) untuk aplikasi medis dan militer.

3. Chip hybrid seperti Tianjic yang menggabungkan pemrosesan deep learning dan neuromorfik.

Baca juga: Perang Chip Amerika Serikat dan China: Siapa Pemimpin Masa Depan Dunia Digital

China memanfaatkan keunggulan kebijakan terpusat (top-down) dan infrastruktur industri untuk mempercepat riset:

1.     Antarmuka otak-mesin,

2. Robotika cerdas yang terinspirasi otak,

3. Sistem hybrid bio-AI (mengintegrasikan komponen biologis dengan mesin).

Siapa Akan Memimpin?

Aspek

Amerika Serikat

China

AI Generatif

Dominan

Mengejar

Neuromorphic Chips

Memimpin

Berkembang pesat

Brain-Computer Interface

Berkembang

Fokus utama

Bio-AI Hybrid

Eksperimen awal

Mulai dieksplorasi

Kebijakan Nasional

Moderat

Terintegrasi penuh

AS tetap unggul dalam AI generatif dan teknologi chip, namun China berpotensi menjadi pemimpin di sektor BCI dan robotik bio-inspired dalam satu dekade ke depan, terutama karena fokus strategis mereka di bidang ini.

AI Masa Depan: Bukan Sekadar Software

AI generasi berikutnya bukan sekadar chatbot, tetapi mesin cerdas masa depan akan memiliki kemampuan:

1.     Belajar seperti otak manusia (brain-inspired computing).

2. Berinteraksi langsung dengan otak manusia (BCI).

3. Bahkan menggunakan elemen biologis nyata dalam sistemnya (bio-AI hybrid).

Perebutan dominasi teknologi AI antara dua raksasa Amerika Serikat dan China, bukan hanya soal software, tapi membangun fondasi biologis dan neuromorfik kecerdasan buatan masa depan.

Literatur terkait:
Borra, R. (2024). Neuromorphic Computing: Bridging Biological Intelligence and Artificial Intelligence. IJEAT, Vol. 14(2). DOI: 10.35940/ijeat.B4558.1402122. 
Youhui Zhang , Peng Qu, & Weimin Zheng (2021),Towards “General Purpose” Brain-Inspired Computing System,  Volume 26 (5),  Tsinghua Science And Technology, Vol 26 (5), Doi: 10.26599
Komentar
Silakan lakukan login terlebih dahulu untuk bisa mengisi komentar.
JejakAI
Exploring AI for Humanity
JejakAI adalah situs web yang membahas berita, tren, dan perkembangan terbaru seputar kecerdasan buatan, menghadirkan analisis mendalam serta informasi terkini tentang inovasi di dunia AI.
Copyright © 2026 JejakAI. All Rights Reserved. | dashboard